Dekolonisasi Pemikiran Islam Nusantara: Telaah Kritis atas Ceramah Kiai Kholil Bisri dan Fenomena Kultus Nasab

Islam Nusantara sejak dahulu dikenal sebagai wajah Islam yang damai, moderat, dan berakar kuat pada budaya lokal. Para ulama pesantren menyebarkan
Warta Batavia - Islam Nusantara sejak dahulu dikenal sebagai wajah Islam yang damai, moderat, dan berakar kuat pada budaya lokal. Para ulama pesantren menyebarkan Islam melalui pendekatan akhlak, ilmu, dan keteladanan, bukan dengan membangun kasta sosial berbasis keturunan. Namun dalam perkembangan sejarah, muncul fenomena pengultusan nasab yang dianggap sebagian kalangan telah menggeser otoritas keilmuan ulama lokal.

Hal inilah yang menjadi pembahasan menarik dalam kajian KRT Nur Ihyak Hadinegoro, seorang dosen di Surabaya sekaligus Kasepuhan PWILS, ketika mengulas ceramah almarhum KH Kholil Bisri, mantan Menteri Agama dan tokoh besar Nahdlatul Ulama. Dalam pandangannya, ada persoalan serius terkait dominasi simbol keturunan dalam kehidupan sosial-keagamaan yang perlu dikritisi secara ilmiah dan proporsional.

Dekolonisasi Pemikiran Islam Nusantara: Telaah Kritis atas Ceramah Kiai Kholil Bisri dan Fenomena Kultus Nasab


Artikel ini akan membahas pemikiran tersebut dalam konteks sejarah, budaya, dan dinamika umat Islam Indonesia secara lebih luas.

Mengenal KH Kholil Bisri dan Tradisi Intelektual Pesantren

KH Kholil Bisri merupakan tokoh besar NU asal Rembang yang dikenal cerdas, moderat, dan memiliki wawasan kebangsaan yang luas. Beliau adalah putra dari KH Bisri Mustofa, ulama besar penulis Tafsir Al-Ibriz yang sangat populer di kalangan pesantren Jawa.

Dalam sejarah politik nasional, KH Kholil Bisri pernah menjadi anggota DPR RI, Wakil Ketua MPR RI, hingga aktif di berbagai organisasi keagamaan. Sosoknya dikenal sebagai ulama yang mampu memadukan tradisi pesantren dengan pemikiran kebangsaan modern.

Menurut KRT Nur Ihyak Hadinegoro, KH Kholil Bisri memiliki kecerdasan dan ketegasan dalam membaca fenomena sosial umat. Beliau dinilai memahami persoalan ketimpangan otoritas keagamaan yang berkembang di masyarakat, terutama terkait pengaruh simbol-simbol keturunan Arab dalam kehidupan umat Islam Indonesia.

Fenomena Kultus Nasab dalam Kehidupan Beragama

Salah satu tema utama yang dibahas adalah munculnya penghormatan berlebihan terhadap kelompok tertentu hanya karena faktor nasab atau garis keturunan. Dalam praktiknya, sebagian masyarakat sering kali lebih menghormati simbol keturunan dibanding kapasitas ilmu, akhlak, dan kontribusi nyata seseorang.

Fenomena ini dinilai berbahaya karena dapat melahirkan ketimpangan sosial dalam kehidupan beragama. Ulama lokal yang memiliki kompetensi keilmuan tinggi terkadang justru kalah pamor dibanding figur yang mengandalkan simbol keturunan.

Padahal dalam ajaran Islam, kemuliaan manusia tidak diukur dari darah atau silsilah, melainkan dari ketakwaan dan ilmu. Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa tidak ada kelebihan bangsa Arab atas non-Arab kecuali karena takwa.

KRT Nur Ihyak Hadinegoro menilai, pengultusan nasab berpotensi melemahkan tradisi intelektual pesantren Nusantara


KRT Nur Ihyak Hadinegoro menilai, pengultusan nasab berpotensi melemahkan tradisi intelektual pesantren Nusantara yang sejak dahulu berdiri di atas fondasi ilmu dan akhlak.

Strategi Kolonial dan Politik Identitas

Dalam kajian tersebut juga disinggung bagaimana kolonial Belanda dahulu memanfaatkan simbol-simbol sosial dan agama untuk membangun pengaruh politik di Nusantara.

Belanda memahami bahwa masyarakat pribumi memiliki penghormatan besar terhadap simbol Arab dan keturunan Timur Tengah. Kondisi ini kemudian dimanfaatkan untuk menciptakan struktur sosial baru yang dapat memecah kekuatan ulama lokal dan pesantren.

Strategi kolonial dilakukan melalui beberapa cara, antara lain:

1. Menggeser Otoritas Ulama Lokal

Pesantren dan ulama pribumi memiliki pengaruh besar terhadap rakyat. Karena itu, kolonial berusaha membangun figur alternatif yang dianggap memiliki legitimasi spiritual lebih tinggi.

2. Membangun Hierarki Sosial

Simbol keturunan tertentu diposisikan sebagai aristokrasi spiritual sehingga masyarakat merasa inferior terhadap identitas lokalnya sendiri.

3. Memecah Solidaritas Umat

Ketika umat terpecah karena fanatisme kelompok dan simbol identitas, maka perlawanan terhadap penjajahan menjadi lebih mudah dilemahkan.

Pandangan ini menjadi bagian penting dalam upaya memahami sejarah sosial umat Islam Indonesia secara lebih kritis dan objektif.

Pentingnya Menghormati Ulama Lokal

KRT Nur Ihyak Hadinegoro menegaskan bahwa ulama Nusantara memiliki jasa besar dalam membangun Islam Indonesia. Para kiai pesantren tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga berjuang melawan penjajahan dan menjaga persatuan bangsa.

Tokoh-tokoh seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, KH Bisri Mustofa, KH Maimun Zubair, dan banyak ulama lainnya adalah contoh bagaimana tradisi Islam Nusantara dibangun melalui ilmu dan perjuangan nyata.

Karena itu, masyarakat perlu mengembalikan penghormatan kepada kualitas keilmuan dan akhlak, bukan sekadar simbol genealogis.

Menurut beliau, ulama lokal tidak boleh dianggap sebagai ulama kelas dua. Dakwah berbasis budaya Nusantara juga tidak boleh dipandang rendah hanya karena tidak menggunakan simbol-simbol Timur Tengah secara berlebihan.

Kritik terhadap Praktik Keagamaan Berlebihan

Selain membahas persoalan nasab, kajian tersebut juga menyinggung fenomena praktik keagamaan yang dinilai berlebihan dan kurang rasional.

Beberapa tradisi seperti pengkultusan individu, klaim karamah berlebihan, hingga fanatisme kelompok dianggap dapat mengganggu kualitas pendidikan Islam modern. Bahkan sebagian orang tua mulai memilih sekolah Islam modern karena khawatir anak-anak terlalu dicekoki cerita mistis dan budaya taklid yang tidak sehat.

KRT Nur Ihyak Hadinegoro mengingatkan bahwa Islam harus tetap diajarkan secara rasional, ilmiah, dan relevan dengan perkembangan zaman. Pendidikan agama tidak cukup hanya membahas simbol spiritual, tetapi juga harus membangun kreativitas, kemandirian ekonomi, dan kemampuan berpikir kritis.

Islam Nusantara dan Moderasi Beragama

Salah satu poin penting dari kajian ini adalah pentingnya menjaga Islam Nusantara sebagai model Islam moderat. Islam Nusantara lahir dari perpaduan antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal yang tidak bertentangan dengan syariat.

Pendekatan dakwah para wali dan ulama terdahulu dilakukan dengan penuh kebijaksanaan, tanpa merusak budaya masyarakat secara ekstrem. Karena itu, tradisi lokal seperti seni, budaya, bahasa daerah, dan adat istiadat tidak boleh langsung dicap negatif selama tidak bertentangan dengan prinsip Islam.

Moderasi beragama menjadi penting agar umat Islam Indonesia tidak mudah terjebak pada ekstremisme identitas maupun fanatisme golongan.

Dekolonisasi Pikiran Umat Islam

Istilah “dekolonisasi pikiran” menjadi salah satu gagasan utama dalam kajian ini. Maksudnya adalah membebaskan umat dari mental inferior terhadap identitas tertentu dan membangun kembali kepercayaan diri terhadap tradisi keilmuan lokal.

Dekolonisasi pikiran bukan berarti membenci budaya Arab atau kelompok tertentu, tetapi mengajak umat untuk lebih objektif dalam menilai seseorang berdasarkan ilmu, akhlak, dan kontribusinya.

Umat Islam Indonesia harus mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain tanpa kehilangan identitas budaya dan tradisi intelektualnya sendiri.

Pentingnya Persatuan dan Kedewasaan Umat

Meskipun banyak kritik disampaikan dalam kajian tersebut, tujuan utamanya tetap untuk membangun kesadaran umat agar lebih dewasa dalam beragama.

Perbedaan pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci atau memecah persatuan bangsa. Kritik sosial harus dilakukan secara ilmiah, santun, dan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.

KRT Nur Ihyak Hadinegoro juga mengingatkan bahwa umat Islam Indonesia memiliki tantangan besar di era modern, mulai dari kemiskinan, pendidikan, hingga pengaruh politik global. Karena itu, energi umat seharusnya difokuskan untuk membangun kualitas sumber daya manusia, ekonomi, dan pendidikan.

Kesimpulan

Kajian tentang nasab, otoritas keagamaan, dan dekolonisasi pikiran menjadi refleksi penting bagi umat Islam Indonesia saat ini. Kemuliaan dalam Islam sejatinya dibangun di atas ilmu, ketakwaan, dan akhlak, bukan semata-mata garis keturunan.

Tradisi pesantren Nusantara telah membuktikan bahwa ulama lokal mampu membangun peradaban Islam yang damai, moderat, dan berakar kuat pada budaya bangsa. Karena itu, penghormatan kepada ulama harus diberikan berdasarkan kapasitas keilmuan dan kontribusinya bagi umat.

Di tengah derasnya arus politik identitas dan fanatisme kelompok, umat Islam Indonesia perlu menjaga akal sehat, persatuan, serta semangat moderasi beragama agar tetap menjadi bangsa yang kuat, bermartabat, dan berkeadaban. (Qodrat Arispati)

Simak penjelasan KRT Nur Ihyak Hadinegoro di YouTube: 


LihatTutupKomentar